The False Consensus
mengira semua orang punya pemikiran yang sama dengan kita padahal tidak
Pernahkah kita sedang asyik nongkrong di kedai kopi bersama teman-teman, lalu melontarkan sebuah pendapat yang kita yakini sebagai kebenaran mutlak? Misalnya, kita bilang, "Jelas banget lah ya, kerja dari rumah itu jauh lebih produktif daripada di kantor." Kita tersenyum, siap menerima anggukan setuju dari seluruh meja. Namun yang terjadi justru keheningan sejenak. Lalu satu per satu teman kita mulai geleng kepala dan mendebat pendapat tersebut. Tiba-tiba, kita merasa seperti alien di tengah orang-orang terdekat kita sendiri. Perasaan kaget itu sangat nyata, bukan? Kita mungkin membatin, "Kok bisa sih mereka berpikir beda? Bukannya ini hal yang sudah disepakati semua orang?" Nah, fenomena ini sebenarnya punya nama. Kita baru saja masuk ke dalam jebakan ilusi pikiran kita sendiri.
Kejadian canggung di meja kopi tadi sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah umat manusia. Di tahun 1977, seorang psikolog dari Stanford University bernama Lee Ross melakukan sebuah eksperimen klasik yang sangat menarik. Ross meminta sekelompok mahasiswa untuk berjalan keliling kampus sambil memakai papan iklan besar berbentuk roti lapis (sandwich board) bertuliskan "Eat at Joe's". Tentu saja, ini hal yang memalukan. Sebagian mahasiswa setuju untuk melakukannya, sebagian lagi menolak mentah-mentah. Tapi bagian paling seru dari eksperimen ini bukan pada siapa yang mau atau tidak mau. Ross menanyakan satu pertanyaan sederhana kepada kedua kelompok tersebut: "Menurut kalian, berapa persen orang yang akan mengambil pilihan yang sama dengan kalian?" Hasilnya luar biasa. Mereka yang setuju memakai papan tersebut yakin bahwa mayoritas mahasiswa lain juga akan setuju. Sebaliknya, mereka yang menolak sangat yakin bahwa hampir semua orang waras pasti akan menolak juga. Kedua kelompok ini sama-sama yakin bahwa mereka adalah mayoritas. Di sinilah ilmu psikologi secara resmi menamai fenomena ini sebagai the false consensus effect atau efek konsensus palsu.
Sekarang mari kita renungkan sejenak. Jika bias ini hanya terjadi pada urusan memakai papan iklan memalukan atau urusan sepele seperti cara makan bubur ayam, mungkin dampaknya tidak seberapa. Namun, apa jadinya jika ilusi ini menyusup ke hal-hal yang lebih besar? Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa saat musim pemilu tiba, kita selalu merasa jagoan kitalah yang pasti menang karena "semua orang" di sekitar kita mendukungnya? Atau mengapa kita sering merasa frustrasi dan menganggap bodoh orang-orang yang memiliki pandangan berbeda soal kebijakan publik, sains, atau moralitas? Mengapa otak kita, yang telah mengevolusikan peradaban hingga mampu mengirim roket ke luar angkasa, bisa dengan mudahnya tertipu oleh ilusinya sendiri? Jika otak kita dirancang untuk memproses fakta demi kelangsungan hidup, lalu mengapa ia secara sengaja membelokkan realitas dan membuat kita merasa seolah-olah seluruh dunia adalah cermin yang memantulkan isi kepala kita? Ada sebuah mekanisme rahasia di dalam kepala kita yang sedang bekerja diam-diam.
Jawaban dari misteri ini terletak pada cara otak kita menghemat energi. Teman-teman, otak kita pada dasarnya adalah mesin prediksi yang sangat efisien, namun juga cukup pemalas. Dalam neurosains dan psikologi kognitif, ada konsep yang disebut availability heuristic atau jalan pintas ketersediaan. Saat kita harus menebak apa yang dipikirkan orang lain, otak kita tidak akan mau repot-repot mengumpulkan data statistik global. Alih-alih begitu, otak akan mengambil data yang paling cepat dan paling mudah diakses: yaitu pengalaman, perasaan, dan isi kepala kita sendiri. Ditambah lagi, secara evolusioner, nenek moyang kita bertahan hidup dengan cara berkelompok dan menyamakan persepsi agar aman dari ancaman predator. Merasa berada di kelompok mayoritas memberikan rasa aman secara psikologis. Otak akan melepaskan dopamin saat kita merasa pendapat kita divalidasi oleh "banyak orang". Masalahnya, di era modern ini, apalagi dengan adanya algoritma media sosial yang mengurung kita dalam echo chamber atau ruang gema, ilusi ini menjadi semakin parah. Kita terus-menerus disuapi informasi yang sesuai dengan apa yang kita yakini. Otak kita pun dengan gembira menyimpulkan: "Lihat? Benar kan kataku, seluruh dunia berpikir persis sepertiku!" Padahal, kita sedang melihat dunia dari lubang sedotan.
Menyadari bahwa kita semua rentan terhadap false consensus effect sebenarnya adalah sebuah pengalaman yang sangat melegakan. Ini membuktikan bahwa saat kita keliru menebak isi kepala orang lain, itu bukan berarti kita bodoh atau orang lain yang gila. Itu murni karena kita adalah manusia biasa dengan desain otak yang memiliki titik buta (blind spot). Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari sini? Langkah pertama yang paling ampuh adalah menumbuhkan kerendahan hati intelektual. Mulai sekarang, setiap kali kita merasa sangat yakin bahwa "semua orang pasti setuju", ambil jeda satu detik. Ingatkan diri kita bahwa isi kepala kita bukanlah blueprint dari isi kepala populasi dunia. Mari kita biasakan untuk lebih banyak bertanya alih-alih berasumsi. Lebih banyak mendengar alih-alih langsung menghakimi. Pada akhirnya, dunia ini menjadi tempat yang jauh lebih kaya dan menarik justru karena tidak semua orang berpikir dengan cara yang sama seperti kita. Dan mengakui bahwa kita tidak selalu mewakili suara mayoritas adalah awal dari kebijaksanaan yang sesungguhnya.